Wednesday, 21 March 2012

Janji sang ayah

(co-past cerita temen. Siapin tissue yaa. gue aja sedih bacanya :")

Banu terdiam dan terpaku di kamarnya. Sambil  memandangi telpon di atas meja belajarnya, yang berada di sudut kamarnya. Sejak tadi Banu tak mau beranjak dari kamarnya, dan terus memperhatikan telpon itu. Berharap seseorang di kejauhan sana menelponnya.
Sesekali matanya tertuju pada jam dinding bergambar club sepak bola favoritnya, yaitu Ac Milan, yang tergantung di tembok kamarnya yang berwarna biru muda. Jam dinding tersebut merupakan jam pemberian ayahnya.
Kali ini, untuk kesekian kalinya matanya melirik kearah jam dinding tersebut. Waktu sudah menunjukan pukul 11.00 malam. Rasa kantuk mulai menyerang mata Banu. Namun Banu tetap berusaha menahan rasa kantuknya, sampai ia mendapat telpon dari seseorang itu. Ia pun tetap menunggu dan menunggu.

“banu belum tidur?” Tiba tiba mama datang kekamar banu, dan sedikit mngejutkan Banu.
“eh, mama..” ujar banu. Ia melirik kearah telpon di sudut sana.
“papa?” Tanya mama. Banu mengangguk perlahan. Kemudian mama menghampirinya, sambil mengusap usap bahu Banu. “ mungkin papa masih ada kerjaan. Atau mungkin papa udah tidur, kali aja tadi siang dia sibuk” Hibur mamanya.
“Tapi kan di sana siang..” Jawab Banu. Mama tertawa kecil. “ lagian kan papa janji malam ini mau telpon, tapi kenapa sampe sekarang belom nelpon?” Lanjut banu. Mama hanya diam.

“eh, ma..” banu terdiam sejenak. “ehm..besok papa pulang kan?” Tanya Banu. Mama mengangkat bahunya, sambil menggeleng. Banu menghela nafas.
“udah, mending sekarang kamu tidur, kali aja besok pas kamu bangun papa udah ada di samping kamu” Ujar mamanya. Banu kembali melihatkan senyum manisnya. Mama menyelimuti Banu dengan selimut tebal berwarna biru. “ Tidur ya sayang, besok kan kamu masuk pagi” ujar mamanya lagi. Banu mengangguk. Mama pun bergegas pergi keluar kamar.

Sebelum itu “eh ban, lampunya mama matiin ya” Tanya mama. Banu kembali mengangguk. Saat mamanya hendak keluar kamar, banu memanggil. “ ma..”
“ya?” Sahut mamanya.
“ehm..goodnight! and I love you!” ujar Banu, sambil tersenyum. Mama pun ikut tersenyum.
“goodnight and I love you too dear! Have nice dream.” Akhirnya mama keluar, menuju kamarnya dan pergi tidur.
Perlahan Banu pun mampu menutup matanya, dan melupakan telpon ayahnya. Lalu ia pun tertidur dengan nyenyak.

***

“..Tersadar aku saat kau tak di sisiku
Sakit ku rasa
Ingin kuungkap semua pada mu
Namun apa daya
Kau selalu pergi
Pergi dan jauh dariku..”

“..Banu Anggara Natama..?”
“hadir pak!” sahut Banu sambil mengacungkan tanganya, saat guru mengabsen dirinya.
“ngapain si lo ban?” Tanya Arul, teman sebangku Banu.
“ehm?gak ngapa ngapain..” Jawab Banu singkat.
“itu, nulis nulis apa?” Tanya arul dengan nada penasaran.
“oh, ini? Cuma puisi..” Jawab Banu.

“eh cucok..baru tau gue ada cowok se puitis elo di SMP ini..kenapa gak diikutin lomba aja?” Arul Mencoba memberi saran. Banu menggeleng. “ gue gak suka apa yang punya gue di publikasiin. Apa lagi puisi – puisi karangan gue” jawab banu.
“tapi kan kali aja menang ban..” Desak Arul. Banu tetap kekeuh dengan pendiriannya.
“tapi ban..” Banu langsung memotong omongan Arul.
“Muhammad Wahyu Fajrul, jangan coba coba ubah prinsip gue. gue gak suka!” Tegas Banu. Arul terdiam, dan menghentikan tawaranya.

“M. Wahyu Fajrul?”
“hadir pak!”

***


..perih!
Perih dan pedih
Andai aku Dapat mengungkap semuanya
Mengatakan semuanya padamu
Namun aku menunggu
Menunggu kau disisiku..”

“Jadi bokap nyokap belom tau?” tiba tiba Kak Revand datang, dan menghampiri Banu.
“uh?eh..k,kakak ngapain..?” Tanya Banu Gugup.
“mau nunggu sampai kapan?sampe lo mati? Bokap atau nyokap harus tau ban!” tegas kak Revand. Banu menghela nafas panjang.
“kak, lain kali kalo masuk kamar orang lain yang sopan dong! Ketuk pintu dulu gitu?” Tegur Banu, mengalihkan pembicaraan.
“tok..tok..tok..” kak Revand mengetuk pintu kamar. “gitu?” Sindir kak Revand.
“Kak Revand Armando Natama, bisa keluar dari kamar aku?sekarang!!” mendengar ucapan Banu, Kak Revand marah.
BRAKK” kak Revand memukul pintu dengan keras.
“Terserah lo lah ban!! Gue kasi tau aja ya sama lo, cepat atau lambat, bokap atau nyokap harus tau, dan pasti tau!! Beruntung kalo mereka tau sebelum lo mati!! Gue Cuma ngingetin..jangan sampe terlambat ban!”
brukk” suara bantingan pintu yang di lakukan kak Revand,  terdengar sangat kencang. Banu hanya diam tak berkutik.

Beberapa Jam kemudian, telpon di kamar Banu berdering.
kringg…kringgg..kringg..”
“papahh!?” Tebak Banu. Dengan semangat, ia segera menjawab telpon tersebut.
“halo?”
“good afternoon my boy!” tebakan banu benar, telpon itu dari ayahnya. Mendengar sapaan ayahnya, banu langsung badmood.

“disin jam 7 malem pah..”
“oh,oh.. sorry sorry! Belum tidur?” Tanya ayahnya.
belum. Kapan papa pulang?” Tanya Banu.
“mungkin hari minggu” jawab ayahnya.
“hah!? Itukan 4hari lagi, sementara papa pergi udah seminggu!” Banu terlihat kesal dan kecewa dengan jawaban ayahnya.

“haha..bercanda. gitu aja marah kamu. Ya mungkin besok pagi papa udah sampai di sana. Nanti aja papa mau ke airport” Jawab ayahnya.
“papah nih..” Keluh Banu.
“hahaha…marah mulu si. Yaudah deh, papa ada client nih”
“yah, client lagi..”Ujar Banu kesal.
“yah, kan besok papa pulang. Udah ya..okay boy?see you tomorrow! I love you!” “tutt..tutt..tutt..” ayah Banu pun mematikan telpon.

“halo? Pah..?yah, dimatiin..biarin deh, besok pulang ini!” malam itu pun Banu mampu tertidur nyenyak, tanpa memikirkan telpon.

***
 "hey good morning! Wake up! Hey good morning! Wake up..!” Jam beker milik Banu mulai bordering. Membangunkan banu dari tidurnya.

“hoaahh…!” perlahan banu membuka matanya. Melihat keseliling kamarnya. Mematikan jam bekernya. Lalu ia terduduk diranjangnya.
Perlahan lahan ia berdiri. Merenggangkan otot otot tubuhnya. Tiba tiba pandangannya tertuju pada kotak yang terletak dimeja, disamping ranjangnya. Banu mengambil kotak tersebut, lalu membukanya.

“heah? Laptop doang, kirain apaan..” Banu terlihat tak bersemangat saat membuka kotak tersebut, dan melihat isinya. Perasaanya lebih tidak enak lagi, saat Banu melihat secarik kertas yang terselip didalamnya.

..maaf ya ban, papa langsung berangkat lagi kekantor. Ada urusan mendadak, dan segera harus papa tackle. Tapi nanti malam papa pulang kok. Sebagai tanda maaf, papa kasih kamu laptop ini. papa tau kamu suka ngetik. Jaga baik baik ya! See you tonight!

Papa

“benerkan, feeling gue udah gak enak!” Banu melempar kertas tersebut ke tempat sampah kecil, yang berada dikamarnya. Kemudian, ia pun pergi kluar, segera mandi, dan bersiap untuk berangkat sekolah.

***

Banu menuju meja makan. Dimana, disana sudah ada mama, dan kak Revand. Lalu ia pun duduk di kursi kosong, disamping mamanya.
“aduh, anak mama udah ganteng” ujar mama, sambil mengelus kepala banu.
“ish, mama nih..jangan digituin ah, emang aku anak kecil..” Jawab Banu risih. Kak Revand tertawa kecil melihat tingkah Banu.

“aihh..adik kakak emang ganteng banget…unyu unyu dehh! Hahaha..” Sindir kak Revand.
“Revand?” tegur mama kepada kak Revand. Kak Revand diam, sesekali melirik Banu, dan tersenyum menyindir.
“apaan sih kak!”
“heehh..ini berantem mulu!” ujar mama. Mama terdiam sejenak. Lalu mama teringat sesuatu. “oh iya ban, tadi papa..” Banu segera memotong omongan mama.

“Udah tau!!” Jawab Banu ketus. Sambil mengolesi selai diatas rotinya. Mama tersenyum pahit.
“kaciann anak mama..” Sindir Kak Revand, untuk kesekian kalinya. Banu hanya melirik sinis.
“heeh, mulai lagi deh!” Tegur mama.
“haha, yaudah lah mah..aku berangkat dulu!” Kak Revand bangun dari duduknya. Dan bergegas pergi. Tak lupa, ia mencium kening mama, sebelum berangkat. Ia melirik Banu.
“kenapa? Mau dicium juga? Hahaha…aku berangkat!” Kak Revand pun pergi meninggalkan rumah, dan berangkat menuju kampusnya.
“resekk!” Banu makin kesal.
“udah..udah! kakak mu emang begitu” ujar mama.

***



“..Kau datang
Aku tertidur lelap
Kau pergi
Aku belum terjaga dari tidurku..”

Suasana SMP Persada 1 sangat ramai, selayaknya sekolah sekolah lainya. Namun Banu sama sekali tidak perduli dengan keramaian itu. Ia tetap berada di kelas.
Banu memang cenderung anak yang pendiam. Laki laki paling dingin di sekolahan itu. Tak pernah tertarik dengan olah raga, musik, dance, atau pun lainya. Apa lagi dunia percintaan. Ia hanya sibuk mengurusi dirinya dan dunianya. Satu satunya yang ia suka, hanya membaca, membaca, membaca. Terutama karya sastra, puisi puisi, dan novel novel detective. Dan satu satunya olah raga yang ia suka, hanya sepak bola. Itu pun hanya karna tim favoritnya, yakni Ac Milan. Manusia teraneh memang. Banyak perempuan yang jatuh cinta dengan sikap dingin Banu. Namun Banu sama sekali tidak pernah menggubris para wanita itu. Semua dianggap biasa.

“hari ini kan ada penilaian ban” Ujar Arul.
“penilaian apa?” Tanya Banu.
“iya, penilaian dari pak Persada. Kan tiap taunnya selalu ada penilaian dari pak persada.” Jawab Arul.
“Pak Persada siapa si?” Tanya Banu santai, sambil membaca buku ditanganya. Arul memukul dahinya sendiri.
“aduh banu..itu kan ketua yayasan. Pemilik SMP ini, dari SMP Persada 1 sampe Persada 3! Masa lo gak tau?” Banu hanya menggeleng.

“hadehh.. terserah lo lah ban” Arul melirik buku yang berada di tangan Banu. “sejak kapan lo suka baca buku kedokteran? selain buku buku sastra lo itu?” Tanya Arul.
“huh? Ehm..” Banu menggaruk garuk kepalanya. “dibeliin bokap gue!” Jawab Banu.
“gue rasa lo sekeluarga aneh semua! Masa bokap lo beliin buku tentang kanker, yang bener aja!”
“haha, supaya wawasan gue luas!” Jawab Banu.

Akhirnya, Bel tanda masuk pun berbunyi. Seorang guru masuk kekelas 7.b yakni kelas Banu. Kebetulan hari ini mereka ulangan harian. Guru pun mulai membagikan kertas soal. Entah kenapa, saat itu tiba tiba Banu merasakan pusing yang sangat hebat. Ia memegangi kepalanya.

“kamu baik, Banu?” Tanya guru tersebut, yang heran melihat Banu. Banu mengangguk. Namun sakit itu tetap terasa. Banu mencoba menahanya.
Kali ini, tak hanya pusing yang ia rasakan. Tubuhnya pun terasa lemas, dan kaku. Namun ia mencoba menahan rasa sakitnya.

Kertas ulangan sudah berada di mejanya. Ia pun mengerjakan soal tersebut. Entah kenapa lagi, tanganya terasa sulit untuk menulis. Namun ia tetap berusaha mengerjakan soal tersebut.
trakk” tiba tiba pulpen di Tangan Banu terlempar ke bawah mejanya. Ia mencoba mengambil pulpen tersebut. Saat ia menunduk, darah terasa sangat cepat mengalir ke kepalanya. Ia merasakan pusing yang tak tertahankan. Ia terasa sulit untuk menahan tubuhnya.

bruk!” tak sengaja banu menyenggol botol minum diatas mejanya, saat ia mencoba berpegangan di meja.
“Kamu kenapa Ban? sehat kan?” Tanya gurunya yang heran dengan tingkah Banu. Si guru akhirnya menghampiri Banu. Dan membantu Banu duduk di bangkunya.

“Kamu gak papa kan ban?” Tanya Si Gruru lagi. Banu Hanya menggeleng. Guru tersebut melihat kertas ulangan Banu.
“kamu udah hampir 30 menit lebih, baru ngisi 5 soal? Waktu hanya satu jam loh ban! Sementara ini 10 soal uraian! Kok kamu jadi begini sekarang?” Banu hanya tertunduk saat mendapat teguran dari Guru tersebut.
“m, maaf pak… s,se..saya, saya sulit buat nulis pak!” Jawab Banu. Semua anak dikelas tertawa kecil mendengar alasan yang diberikan oleh Banu.
“hah?alasan yang gak wajar? Kamu sakit? Kalo kamu sakit bilang!” ujar si Guru. Banu menggeleng.
“bapak tidak mau tau! Sekarang kamu kerjakan soal ini, selesai tidak selesai, harus dikumpulkan!”

Banu mengangguk. Ia pun kembali mengerjakan soal ulanganya, dan memaksakan tangannya untuk menulis jawaban jawaban yang sangat panjang untuk soal soal tersebut.
Bel pergantian pelajaran berbunyi. Ulangan pun dikumpulkan. Tubuh Banu gemetar. Ia takut kena omel si guru lagi, karena ia baru mengerjakan 6 soal dari 10 soal yang terdapat dikertas ulangan tersebut. Si guru hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Banu hari ini. yang tidak seperti biasanya.

***

Siang hari. Kak Revand pulang lebih cepat dari biasanya, hari ini. keadaan rumah sangat kosong. Mama belum pulang dari kantor, apalagi papa. Tapi satu hal yang membuat rumah ini sangat sepi, Banu biasanya sudah pulang siang itu. Tapi kemana? Kak Revand mencarinya kesetiap sudut ruangan di rumah itu. Namun Banu pun sama sekali tidak ada. Akhirnya kak Revand memutuskan untuk berhenti mencari Banu, dan segera mandi.

Namun Kak Revand terkejut saat masuk ke kamar mandi. Kak Revand melihat Banu jatuh Pingsan disana. Dengan darah kental yang keluar dari hidungnya. Tanpa pikir panjang lagi, Kak Revand segera membawa Banu ke mobil, dan membawanya kerumah sakit.

***
 “..Menunggu
Aku menunggu saat itu
Saat dimana kau bersamaku
Andai kau tahu
Waktuku kini tak lama lagi..”

“makin parah, penyakitnya makin parah. Obat yang dikonsumsi juga percuma. Ini udah gak bisa ditolong lagi”
“jadi dok?” Tanya Kak Revand.
“satu satunya jalan, yang bisa menyembuhkan pasien Cuma chemotheraphy..tapi dana yang dibutuhkan sangat besar.” Jawab Si Dokter.

“yaudah! Apa aja, dan berapa pun harganya, yang penting adik saya sembuh dok!”
“hush! Jangan gegabah!” tegur si Dokter. “risikonya banyak, bisa saja adik anda sembuh, namun timbul penyakit baru di organ lain. Lagi pula, chemo itu sangat berat, kalau adik anda tidak kuat, bisa bisa dia meninggal. Dan mungkin adik anda bisa mengalami depresi yang sangat berat. Banyak pasien kami, setelah menjalani chemo, bukanya sembuh, malah meninggal!! Berbahaya!” lanjut sang dokter.

“jadi saya harus ngapain, supaya adik saya bisa sembuh?” Tanya kak Revand. Dokter menghela nafas panjang.
chemo itu sakit mas, sangat sakit. Untuk itu harus dipikirkan matang matang. Bisa saja mempercepat kematian..” Kak Revand terdiam mendengar ucapan dokter. “jadi, coba deh di diskusikan sama pasien, dan keluarga..” lanjut Dokter. Kak Revand tetap diam.

“mas..lebih baik menunggu, dari pada mempercepat kan?” ujar si dokter sambil tersenyum. Kak Revand tersenyum kecil. “ semua orang pasti bertemu ajalnya, termasuk adik mas ini..”hibur Dokter.

Setelah Banu sadar, akhirnya mereka pulang. Langkah kak Revand sangat berat ketika tau apa yang terjadi pada adiknya. Ia memandangi wajah adiknya dengan sedih, bimbang akan apa yang harus dia lakukan. Langkahnya terasa sangat gontai. Kak Revand memeluk erat tubuh Banu.
“kakak kenapa?” Tanya Banu heran.
“huh? Engga!” kak Revand menggeleng, sambil tersenyum. Untuk menutupi kesedihanya.

***

Wajah senang terpancar diwajah Banu, saat melihat Ayahnya sudah berada dirumah. Ia segera menghampiri ayahnya dengan semangat. Sementara, kak Revand langsung masuk ke kamar, dan membanting pintu.

“kakak kamu kenapa ban?” Tanya mama.
“gak tau tuh, dari tadi begitu!” Banu melirik papanya yang tengah asyik membaca koran. “papa nih,anaknya disebelah juga, cuek banget!” ujar Banu dengan nada sedikit manja.

“eh, si ganteng!” Sindir papanya.
“yee, papa ni..kangen tau!hampir 2 minggu aku gak liat papa, kecuali saat papa lagi tidur, sama pas papa mau kerja!kemana aja si?”
“hm, sorry deh sorry..oiya, laptopnya gimana?” Tanya ayahnya.
“biasa aja! Oh iya pah, pajangan dikamar aku kurang tuh!”
“emang kamu mau apa lagi? Ac Milan lagi?” Tanya ayahnya. Banu menggeleng.
“Foto!” Jawab Banu. Ayahnya tertawa kecil mendengar keinginan Banu. “aneh aneh aja kamu” Ujar papa sambil tertawa geli.

“pah, dikamar aku, Cuma ada satu foto aku sama papa, itu juga aku masih bayi! Please dong!” pinta Banu.
“oke deh, gini aja, gimana kalo hari minggu kita jalan ke Lombok. Kebetulan papa dinas kesana, kalian ikut aja! Nanti papa pesenin tiketnya. Gimana?” Papa mencoba memberi saran.

“boleh boleh, tapi aku tetep pengen foto… gini aja, kita jadi ke Lombok. Kan 2 minggu lagi aku ulang tahun, aku minta kado special sama papa..”
“apa tuh?” Tanya papa.
“ehm, aku mau foto keluarga. Disitu ada papa, mama, sama kak Revand. Boleh gak?” Ujar Banu. Papa mengangguk.
“bener? Yess!! Oh iya, kalo bisa sebelum foto aku mau di botakin pa, kayaknya lucu tuh!”
“iyalah, terserah kamu…yaudah, mending sekarang kamu belajar sana!” ujar papa. Dengan semangat, Banu pun langsung menuju kamarnya.

***
Hari minggu tiba. Semuanya mepersiapkan diri untuk berlibur ke Lombok. Tapi seseuatu terjadi pada Banu. Tiba tiba kepalanya pusing, sejak bangun tidur. Dan sangat berat baginya untuk berjalan. Kakinya sulit diangkat.
“kamu kenapa? Jalan kok diseret seret gitu? Kaki kamu terkilir?” Tanya papa. Banu menggeleng. Banu memegangi kepalanya, sakitnya semakin tak tertahankan, hanya dalam hitungan detik, tiba tiba banu pingsan, dan tak sadarkan diri.
Banu segera dilarikan kerumah sakit. Papa dan mama sangat panic, rencana mereka berlibur pun, segera dibatalkan. Kak Revand terlihat sangat cemas.  Feeling’nya mulai tidak enak. Parasaan cemas, singgah dihati Kak Revand. Ternyata semua itu bukan sekedar perasaan.

Setelah 2 jam, akhirnya Dokter keluar dan menghampiri papa dan mama,setelah memeriksa keadaan Banu.
“kabar baik!anak bapak dan ibu sudah setengah sadar. Namun kabar buruknya…anak anda terserang penyakit leukemia dan keadaanya sudah tidak bisa tertolong lagi. Hanya chemotheraphy lah jalan satu satunya. Penyakit ini, sepertinya sudah cukup lama diderita pasien” papa, mama, dan Kak Revand sangat syok mendengar informasi dari dokter.
“a,anak saya gak punya penyakit itu! k,kita gak pernah tau!pasti dokter salah!” papa mencoba menampik vonis dari dokter.

“punya!” Sahut Kak Revand.
“maksud kamu?” Tanya papa “Banu punya penyakit leukemia, tapi banu gak pernah mau cerita..” jawab Kak Revand.
“kenapa kamu gak cerita sebelumnya?” ujar papa terlihat kesal. “banu gak ngebolehin” jawab kak Revand.
“kamu tau, seandainya kamu cerita, gak akan kayak gini jadinya!mungkin papa langsung ambil langkah panjang untuk sembuhin adik kamu!” Tegas papanya dengan nada tinggi.

“karna papa gak pernah ada dirumah!! Papa selalu pentingin kerjaan papa! Clien client dan client!! Cuma itu yang ada di otak papa! Sampe sampe papa gak tau apa aja yang terjadi di rumah!! Papa gak pernah mikiran kita, papa Cuma bisa kasih materi, tapi mana perhatian papa?? Terutama sama aku!! Males aku liat muka papa!!” amarah Kak Revand langsung meluap. Kak Revand pun langsung pergi dari hadapan kedua orang tuanya. Papa hanya terdiam, sementara mama terlihat sangat syok. Tak mampu membendung air matanya.

“kita ambil langkah Chemotheraphy! Berapa pun harganya, papa siap! asalkan bisa membuat banu sembuh.” Ujar papa. Mama hanya terdiam tak mampu berucap apa apa.

***

“..Semoga tuhan mengabulkan do’aku
Sekali lagi saja
Hanya satu kali lagi
Jika ini memang kesempatan terakhir
Aku ingin bersama mu
Walau mungkin tuk terakhir kali..”

3 Hari Setelah itu…
Banu pun menjalankan Chemotheraphy yang menurutnya sangat menyiksa. Dan kepalanya kini pun botak. Tidak ada yang membaik, terpaksa Chemo untuk kedua kalinya, harus dijalankan. Namun untuk kali ini, Banu terlihat trauma, ia tak mau dan terus menolak. Walau mamanya sudah membujuknya.

“aku gak mau mah dilaser lagi!itu sakit ma, sakitt!!!” Itulah jawaban Banu, setiap kali dibujuk oleh mama.
Seperti biasanya, begitu pula hari ini, papa sedang sangat sibuk dengan dinas dinasnya. Kali ini  dinas selama 7 hari, dan sudah 3hari papa pergi. Kak Revand pun makin kesal dengan kelakuan papanya.

Hari minggu, kondisi Banu makin menurun. Ia kembali dibawa kerumah sakit. Dokter memvonis ia koma. Papanya pun tiba di rumah sakit, setelah Ditelpon Kak Revand.

“banu koma?” Tanya papa dengan wajah cemas. Kak Revand dan mama mngangguk.
“sebaiknya papa masuk, kali aja kalo ada papa, mungkin banu membaik..” Ujar kak Revand. Papa mengangguk.


.kapan akan kau tepati janji itu?
Menunggu dingin sekujur tubuhku?
Sampai berhenti laju darahku?
Atau menunggu nafas terakhirku?
Kini aku berada diujung hidupku
Aku ingin habiskan sisa sisa waktuku bersamamu..”

Papa duduk disamping Banu yang terbaring lemah. Papa menggenggam erat tangan Banu. Papa sudah tak mampu lagi membendung air matanya. Papa menangis, melihat anak yang dicintainya berada di ambang kematian.
Hari ini, hari ulang tahun Banu. Seharusnya, hari ini papa mengabulkan permintaan Banu, untuk berfoto keluarga. Apa daya, Banu kini terbaring lemah, tak berdaya.

“bangun ban…” Pinta Ayahnya. “eh ganteng, hari ini kan kamu ulang tahun! Nanti kita foto bareng… terus papa bakalan beliin kamu Nintendo wii, dan semua Aksesoris Ac Milan. Apa aja yang kamu minta, pasti papa beliin..tapi sebelumya kamu sembuh dulu!” ujar papa. Banu tak merespon apa apa.

“ban, bangun dong! Anak ganteng masa sakit si…” papa terdiam sejenak. Tak lama papa menangis, sangat sedih “papa kangen kamu ban…papa minta maaf ban gak bisa kasih perhatian buat kamu! Papa minta kamu bangun ban!!” papa menghela nafas panjang. Tiba tiba wajah Banu seakan tersenyum, tak lama kemudian, Banu meneteskan Air matanya. Akhirnya Banu merespon.

Dengan segera, papa langsung memanggil dokter. Papa, mama dan Kak Revand, takhenti hentinya berharap. Dokter pun datang dengan sigap.

“nih pa” Kak Revand memberikan secarik kertas, yang berisikan puisi karangan Banu. “ Banu sendiri yang bikin” papa membacanya dengan seksama. Ia kembali meneteskan air mata. Ia menyesal, sangat menyesal.
Dokter keluar. Dan menghampiri mereka.

“kondisi pasien makin keritis..” mendengar itu, papa langsung berinisiatif.
“Vand, panggil juru foto sekarang! Kamu ambil jas papa di mobil, yang satu kamu pakai, yang satu lagi kasih papa! Cepet sekarang!!” Ujar Papa dengan tergesa gesa. Tanpa banyak Tanya lagi, Kak Revan segera melakukan permintaan ayahnya.

“..Hanya satu pintaku
Aku hanya ingin berada dipelukmu
Melihat senyumu
Aku hanya takut
Takut tak dapat memelukmu lagi
Tak dapat melihatmu lagi
Walau hanya sekejap
Namun aku ingin bersamamu…”

Kak Revand tiba, bersama seorang juru foto. Ia mengenakan jas hitam milik papa. Begitu pula papa. Mereka semua berdiri disamping Banu. Juru foto bersiap diposisinya.
“kita mau ngapain pa?” Tanya kak Revand.
“ngabulin satu permintaan Banu. Permintaan terakhir…papa gak mau ingkar janji lagi! Ini kesempatan terakhir papa” Jawab papa.

Juru foto mulai mengambil foto mereka. Bersama dengan Banu yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Foto pun berhasil di dapatkan. Dan papa pun akhirnya mampu mengabulkan permintaan Banu. Walau pun tak seperti yang diharapkan.
“permintaan kamu terkabul sayang..maaf Cuma ini yang bisa papa kabulin! I love you son!” papa mencium kening Banu. Mereka semua tak mampu lagi membendung air matanya.

Denyut jantung Banu terlihat melambat. Melambat dan..
tiit…” Garis panjang terlihat di dalam monitor denyut jantung. Banu menghembuskan nafas terakhirnya. Seketika tangisan pun pecah. Kak Revand terlihat sangat terpukul. Begitu pula papa dan mama.

Namun perasaan lega pun singgah dihati papa, karena ia mampu mengabulkan permintaan Banu, permintaan terakhir. Banu pun pergi dengan tenang, wajahnya melihatkan kesenangannya. Bibirnya melengkungkan senyuman manis, bagaikan bulan sabit yang hiasi malam.

Puisi milik Banu, tersimpan rapih didalam rak buku milik papa. Foto terakhir mereka, terpajang indah di ruang keluarga. Kini Banu telah pergi. Meninggalkan sejuta kenangan indah, dan sejuta kata kata bermakna yang terlantun dan tertulis indah dalam puisinya. Kini semua itu menjadi kenangan. Kenangan yang tak mampu dilupakan, dan selalu tersimpan rapih di dalam album kehidupan mereka.

THE END

JANJI SANG AYAH

Kau sempat berjanji satu hal pada ku…
Memeberikan hadiah terindah untuku..
Namun tak pernah ku melihatmu..
Sungguh pemandangan langka..
Engkau bagiku..
Kau datang..
Aku tertidur lelap…
Kau pergi…
Aku belum terjaga..
Dari tidurku…

Kapan janji itu kau tepati?
Menunggu dingin sekujur tubuhku?
Sempai berhenti laju darah ku?
Atau menunggu nafas terakhirku?
Kini aku berada di ujung hidupku..
Aku ingin habiskan sisa sisa waktuku
Bersamamu..
Namun..
Tersadar aku saat kau tak di sisiku..
Sakit ku rasa..
Ingin kuungkap semua pada mu..
Namun apa daya..
Kau selalu pergi..
Pergi dan jauh dariku..

Perih!
Perih dan pedih..
Andai aku Dapat mengungkap semuanya..
Mengatakan semuanya padamu..
Namun aku menunggu..
Menunggu kau disisiku..
Menunggu saat itu..
Saat dimana kau bersamaku..
Andai kau tahu..
Waktuku kini tak lama lagi..
Aku rindu padamu..
Aku rindu dipeluk mu..
Semoga tuhan mengabulkan do’aku..
Sekali lagi saja..
Hanya satu kali lagi..
Jika ini memang kesempatan terakhir..
Aku ingin bersama mu..
Walau mungkin tuk terakhir kali..

Banu Anggara Natama…
***

0 komentar:

Post a Comment