Tuesday, 25 June 2013

Ketika orang sedang melakukan sesuatu, kita hanya bisa menilai

Setiap orang punya hak masing-masing untuk menentukan tujuan hidupnya masing-masing. Gue beruntung punya kedua orangtua, serta ketiga saudara yang bener-bener saling ngedukung masing-masing cita-citanya.

Mungkin sebagian orang merasakan hal yang sama seperti gue. Habis melakukan sesuatu, terus ada seseorang yang mirip melakukan hal yang sama dengan kita. Ya, kita hanya bisa menilaikan? Bokap gue pernah bilang, lebih baik jadi pemain daripada penonton. Tapi, menurut gue, kalo pemainnya itu sudah pernah jadi penonton sebagai penonton si pemain lalu mencontek hal yang dilakukan si pemain mah itu namanya gak kreatif dong~ so, think again before do.. :)

Tapi, gue tidak mementingkan seorang plagiat. Gue terus berjalan lurus tanpa menengok ke orang tersebut sambil terus mengeluarkan hasil karya yang berbeda. Kita dilahirkan untuk sukses pada jalannya masing-masing, kan?


Tanpa rehan, hidup gue gak akan mengenal kejayusan, dan lelucon si anak kecil yang udah bisa main tab sendirian. Dan tanpanya, gue gak bisa jadi pengajar sekaligus penghajar yang baik untuk dia, selain dia butuh ajaran, dia juga butuh hajaran loh -_- sebenernya ini gak patut untuk gue publikasikan. Tapi, gue bangga kok sama rehan. Dia akalnya cerdik, ya walaupun cerdiknya cerdik 'anak TK'. Hehe.




Tanpa sultan, gue gak akan bisa ngasih contoh sebagai kakak yang baik buat dia, supaya dia ngasih contoh yang baik pula ke adeknya. Dan, bikin gue mandiri dengan sendirinya. Sultan itu emang satu-satunya adek ideal gue. Enak diatur, enak diajak kerja sama, pokoknya layaknya seperti saudara laki-laki yang lebih mudalah. Ya, walaupun banyak ajaran dan hajaran gue yang kurang bermakna untuknya. Tapi, gue tetep bangga sama dia.










Tanpa iso, gue gak akan bisa nyontohin kebaikan sebagai kakak yang super baik & seru untuk adek-adek gue. Dikala gue kesepian, beliau nemenin gue. Dikala gue gak ada duit untuk keperluan yang mendesak, beliau yang paling pertama gue cari. Beruntunglah gue jadi anak tengah-tengah, gue contoh kebaikan kakak gue, selanjutnya gue kasih contoh untuk adek-adek gue, dan yang buruknya, buang aja. Simple.








Tanpa mama sama papa, gak ada tempat gue mengadu, gak akan kenal lelah meminta, dan tanpa mama sama papa pula, gue gak akan kenal kasih sayang dan cinta kasih yang luarbiasa dari kedua orangtua yang membesarkan gue sampai bisa seperti ini. Gue gak tau harus berterimakasih kayak gimana sama beliau, gak tau juga gue harus bales budi kayak gimana sama beliau. Tapi, yang selalu gue bingungin, mereka selalu bangga apapun hasil yang udah diusahain anak-anaknya. Padahal hasilnya gak seberapa, dan mereka yang harus lebih dibanggain dibanding anak-anaknya. I love them because Allah swt. :")



Dan, tanpa temen-temen gue. Gue gak akan kenal kata bullying. Mereka semua penyemangat gue. Mereka hampir sama perannya dengan kakak gue. Walaupun sebenernya lebih sering bersenang-senang sama mereka daripada sama kakak gue.


Tanpa mereka semua, mungkin hidup gue layaknya orang normal biasa. Normal itu udah biasa~ ya kan? Mereka semua penyemangat hidup gue. Yang bisa merubah hidup gue jadi luarbiasa. Dan juga, penyemangat gue untuk raih cita-cita. Cita-cita itu untuk diraih, bukan cuman diimpikan, bukan hanya dijadikan angan-angan pula. Bokap gue sering banget ngomongin cita-cita. Semakin kesini, gue makin tau, apa yang diinginkan orangtua kepada anak-anaknya. Ya, orangtua mau anak-anak mereka sukses dunia-akhirat, amin. Bokap juga selalu bilang, kalo beliau tuh bakal sedih kalo diantara 4 orang anaknya ada yang gak sukses kelak. Mungkin itu alesan gue rajin belajar. Orangtua gak pernah bikin gue sedih, masa gue tega bikin sedih orangtua?
Bukannya sombong. Gue punya orangtua gak kayak orangtua biasanya. Yang selalu maksain anaknya rajin rajin rajin dan rajin belajar. Nggak. Gue yang punya pendidikan, gue yang punya otak, kenapa harus disuruh? Yang mau sukses kita, bukan orangtua doangkan?
Orangtua gue gak pernah maksain untuk rajin belajar, cuman orangtua gue ngingetin untuk rajin belajar. Beda, bukan? Malahan ya, justru belajar yang bukan karena paksaan itu lebih bermakna dan cepat masuk ke otak. Terus, lebih ikhlas pula.

Oh iya, bokap juga pernah cerita, by the way, maaf ya, ini tokohnya lebih banyak bokap. Soalnya beliau itu penerang masa depan gue banget. Jadi, katanya, ada anak yatim yang hidupnya kurang berkecukupan, dan punya cita-cita tinggi, cita-citanya itu dia mau sekolah di Jepang. Menurut logika, anak itu bagaimana caranya buat sekolah di Jepang coba? Tapi, anak itu gak gampang putus asa, dia nanya ke ibunya, bagaimana caranya supaya bisa sekolah di Jepang? Sedangkan mereka hidupnya tidak berkecukupan. Ibunya bilang, kalo mau sekolah di sana, syaratnya cuman minta sama Allah dengan cara solat tahajud setiap malam, dan tak lupa rajin belajar sebagai bukti usahanya. Akhirnya anak itu setiap malam solat tahajud untuk meminta dikabulkan cita-citanya. Nah, selang beberapa tahun.. pas lulus SMA, dia dapet beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya di Amerika, dan lulus S1 di sana. Setelah dapet beasiswa dan sekolah di sana, dia dapet beasiswa lagi untuk melanjutkan sekolah sarjananya ke sebuah negara (bukan Jepang) dan lulus S2 di sana. Dan akhirnya, untuk lulus S3 dia dapet beasiswa lagi, dan kali ini ke Jepang. Walaupun bertahun-tahun baru terkabulkan, dia gak sia-sia. Anak yatim seperti dia bisa ke luar negeri, keliling-keliling cuman untuk menuntut ilmu. Yoi kan? Punya cita-cita setinggi itu, dan terkabul, malah dapet bonus keliling negri. 

Allah itu Maha Adil loh. Barangsiapa yang mau berusaha dan berdoa, dia akan mendapat balasannya. Kepastian cuman ada di tangan Allah. Kun fayakun.. Jadi maka jadilah.

Nah, apa yang sudah kita dapat? Banyak. Yang simple-nya sih gini, kalo usaha tanpa doa itu sombong, kalo doa doang tanpa usaha itu sama aja boong.
Menurut guesih cukup sampai sini saja ya. Wassalamualaikum! :)

0 komentar:

Post a Comment