Setiap orang punya hak masing-masing untuk
menentukan tujuan hidupnya masing-masing. Gue beruntung punya kedua orangtua,
serta ketiga saudara yang bener-bener saling ngedukung masing-masing
cita-citanya.
Mungkin sebagian orang merasakan hal yang sama
seperti gue. Habis melakukan sesuatu, terus ada seseorang yang mirip melakukan
hal yang sama dengan kita. Ya, kita hanya bisa menilaikan? Bokap gue pernah
bilang, lebih baik jadi pemain daripada penonton. Tapi, menurut gue, kalo
pemainnya itu sudah pernah jadi penonton sebagai penonton si pemain lalu
mencontek hal yang dilakukan si pemain mah itu namanya gak kreatif dong~ so,
think again before do.. :)
Tapi, gue tidak mementingkan seorang plagiat.
Gue terus berjalan lurus tanpa menengok ke orang tersebut sambil terus
mengeluarkan hasil karya yang berbeda. Kita dilahirkan untuk sukses pada
jalannya masing-masing, kan?
Tanpa rehan, hidup gue gak akan mengenal
kejayusan, dan lelucon si anak kecil yang udah bisa main tab sendirian. Dan
tanpanya, gue gak bisa jadi pengajar sekaligus penghajar yang baik untuk dia,
selain dia butuh ajaran, dia juga butuh hajaran loh -_- sebenernya ini gak
patut untuk gue publikasikan. Tapi, gue bangga kok sama rehan. Dia akalnya
cerdik, ya walaupun cerdiknya cerdik 'anak TK'. Hehe.
Tanpa sultan, gue gak akan bisa ngasih contoh
sebagai kakak yang baik buat dia, supaya dia ngasih contoh yang baik pula ke
adeknya. Dan, bikin gue mandiri dengan sendirinya. Sultan itu emang
satu-satunya adek ideal gue. Enak diatur, enak diajak kerja sama, pokoknya
layaknya seperti saudara laki-laki yang lebih mudalah. Ya, walaupun banyak
ajaran dan hajaran gue yang kurang bermakna untuknya. Tapi, gue tetep bangga
sama dia.
Tanpa iso, gue gak akan bisa nyontohin kebaikan
sebagai kakak yang super baik & seru untuk adek-adek gue. Dikala gue
kesepian, beliau nemenin gue. Dikala gue gak ada duit untuk keperluan yang
mendesak, beliau yang paling pertama gue cari. Beruntunglah gue jadi anak
tengah-tengah, gue contoh kebaikan kakak gue, selanjutnya gue kasih contoh
untuk adek-adek gue, dan yang buruknya, buang aja. Simple.
Tanpa mama sama papa, gak ada tempat gue
mengadu, gak akan kenal lelah meminta, dan tanpa mama sama papa pula, gue gak
akan kenal kasih sayang dan cinta kasih yang luarbiasa dari kedua orangtua yang
membesarkan gue sampai bisa seperti ini. Gue gak tau harus berterimakasih kayak
gimana sama beliau, gak tau juga gue harus bales budi kayak gimana sama beliau.
Tapi, yang selalu gue bingungin, mereka selalu bangga apapun hasil yang udah
diusahain anak-anaknya. Padahal hasilnya gak seberapa, dan mereka yang harus
lebih dibanggain dibanding anak-anaknya. I
love them because Allah swt. :")
Dan, tanpa temen-temen gue. Gue gak akan kenal
kata bullying. Mereka semua
penyemangat gue. Mereka hampir sama perannya dengan kakak gue. Walaupun
sebenernya lebih sering bersenang-senang sama mereka daripada sama kakak gue.
Tanpa
mereka semua, mungkin hidup gue layaknya orang normal biasa. Normal itu udah
biasa~ ya kan? Mereka semua penyemangat hidup gue. Yang bisa merubah hidup gue
jadi luarbiasa. Dan juga, penyemangat gue untuk raih cita-cita. Cita-cita itu
untuk diraih, bukan cuman diimpikan, bukan hanya dijadikan angan-angan pula.
Bokap gue sering banget ngomongin cita-cita. Semakin kesini, gue makin tau, apa
yang diinginkan orangtua kepada anak-anaknya. Ya, orangtua mau anak-anak mereka
sukses dunia-akhirat, amin. Bokap juga selalu bilang, kalo beliau tuh bakal
sedih kalo diantara 4 orang anaknya ada yang gak sukses kelak. Mungkin itu
alesan gue rajin belajar. Orangtua gak pernah bikin gue sedih, masa gue tega
bikin sedih orangtua?
Bukannya
sombong. Gue punya orangtua gak kayak orangtua biasanya. Yang selalu maksain
anaknya rajin rajin rajin dan rajin belajar. Nggak. Gue yang punya pendidikan,
gue yang punya otak, kenapa harus disuruh? Yang mau sukses kita, bukan orangtua
doangkan?
Orangtua
gue gak pernah maksain untuk rajin belajar, cuman orangtua gue ngingetin untuk
rajin belajar. Beda, bukan? Malahan ya, justru belajar yang bukan karena
paksaan itu lebih bermakna dan cepat masuk ke otak. Terus, lebih ikhlas pula.
Oh
iya, bokap juga pernah cerita, by
the way, maaf ya, ini tokohnya lebih banyak bokap. Soalnya beliau itu penerang
masa depan gue banget. Jadi, katanya, ada anak yatim yang hidupnya
kurang berkecukupan, dan punya cita-cita tinggi, cita-citanya itu dia mau
sekolah di Jepang. Menurut logika, anak itu bagaimana caranya buat sekolah di
Jepang coba? Tapi, anak itu gak gampang putus asa, dia nanya ke ibunya, bagaimana
caranya supaya bisa sekolah di Jepang? Sedangkan mereka hidupnya tidak
berkecukupan. Ibunya bilang, kalo mau sekolah di sana, syaratnya cuman minta
sama Allah dengan cara solat tahajud setiap malam, dan tak lupa rajin belajar
sebagai bukti usahanya. Akhirnya anak itu setiap malam solat tahajud untuk
meminta dikabulkan cita-citanya. Nah, selang beberapa tahun.. pas lulus SMA,
dia dapet beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya di Amerika, dan lulus S1 di
sana. Setelah dapet beasiswa dan sekolah di sana, dia dapet beasiswa lagi untuk
melanjutkan sekolah sarjananya ke sebuah negara (bukan Jepang) dan lulus S2 di
sana. Dan akhirnya, untuk lulus S3 dia dapet beasiswa lagi, dan kali ini ke
Jepang. Walaupun bertahun-tahun baru terkabulkan, dia gak sia-sia. Anak yatim
seperti dia bisa ke luar negeri, keliling-keliling cuman untuk menuntut ilmu.
Yoi kan? Punya cita-cita setinggi itu, dan terkabul, malah dapet bonus keliling
negri.
Allah
itu Maha Adil loh. Barangsiapa yang mau berusaha dan berdoa, dia akan mendapat
balasannya. Kepastian cuman ada di tangan Allah. Kun fayakun.. Jadi maka
jadilah.
Nah,
apa yang sudah kita dapat? Banyak. Yang simple-nya
sih gini, kalo usaha tanpa doa itu sombong, kalo doa doang tanpa usaha itu sama
aja boong.
Menurut
guesih cukup sampai sini saja ya. Wassalamualaikum! :)





0 komentar:
Post a Comment